Lelah Terbayar Tuntas, Warga SMPN 6 Kota Bima Nikmati Kebersamaan di ASI Mbojo Usai Meriahkan Rimpu Mantika
Langkah panjang di bawah teriknya matahari akhirnya terbayar lunas dengan kebersamaan yang hangat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam dalam pagelaran Rimpu Mantika yang digelar oleh Pemerintah Kota Bima, warga SMPN 6 Kota Bima berkumpul di lingkungan ASI Mbojo untuk menikmati makan bersama yang penuh keakraban.
Masih dengan balutan rimpu yang anggun, para siswa, guru, dan staf sekolah duduk bersila dalam suasana santai. Tawa dan cerita ringan mengalir di antara mereka, menggantikan rasa lelah yang sebelumnya menyelimuti. Momen ini menjadi salah satu bagian paling dinantikan setelah mengikuti rangkaian kegiatan budaya yang cukup menguras energi.
Menu yang disiapkan pun terasa istimewa dan menggugah selera. Hidangan bakso hangat, sate yang dibakar dengan sempurna, serta gulai kambing dengan aroma rempah yang khas menjadi sajian utama. Kombinasi menu tersebut tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menghadirkan kenyamanan tersendiri bagi seluruh peserta yang telah berjuang sejak pagi.
Seorang siswa mengungkapkan kegembiraannya, “Capeknya langsung hilang begitu makan bareng teman-teman. Apalagi menunya enak semua.” Hal senada juga disampaikan oleh guru pendamping yang menilai bahwa kegiatan ini bukan sekadar makan bersama, tetapi juga mempererat hubungan kekeluargaan di lingkungan sekolah.
Lingkungan ASI Mbojo yang teduh semakin menambah kenyamanan suasana. Di bawah rindangnya pepohonan, kebersamaan terasa begitu hangat dan penuh makna. Tidak ada sekat antara siswa dan guru, semua larut dalam kebahagiaan sederhana yang tercipta dari kebersamaan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan tidak hanya terbangun di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata di luar sekolah. Warga SMPN 6 Kota Bima tidak hanya sukses berpartisipasi dalam memeriahkan Rimpu Mantika, tetapi juga berhasil menciptakan kenangan indah yang akan terus diingat.
Di balik kemeriahan perayaan, momen makan bersama ini menjadi penutup yang sempurna—menguatkan rasa persaudaraan sekaligus menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal sederhana yang dilakukan bersama.